Kamis, Juli 31, 2008

Harap dan Cemas


Kekakuan sore mengiringi kepenatanku sehabis kerja. Aku sangat membutuhkan suasana yang berlainan dengan kantorku. Setelah aku meletakkan tas kantorku, melihat anak-anak sebentar, aku bergegas pergi ke rumah kakek Suminto. Kerinduan dan kebutuhan mengajakku ke sana. Bertemu dengan orang tua itu membuatku menemukan kembali berbagai suasana yang lebih longgar yang menuansa dalam kehidupan. Keyakinan kadang melelahkan sebagaimana kelelahan seorang perawat menjaga kehidupan pasien-pasiennya. Aku ingin beristirahat sejenak dari semua alur hidupku yang mengeras sebagai keharusan-keharusan kemanusiaanku. Aku bayangkan sore yang lapang di tepi sungai bersama Kakek Suminto. Dan bergegas aku menuju pondoknya.
“ Selamat sore, kek !”
“ Selamat sore, cucuku. Kesegaran rupanya yang menggairahkanmu untuk hadir kemari.”
“ Kakek senantiasa saja membuat saya bertanya-tanya tentang apa pun kehadiran di segenap penjuru. Bagaimana kakek mengetahui pengharapanku ?” , aku penasaran , terkejut dan sekaligus menyerah kepada kakek Suminto yang bijak.
“ Itu tidak penting cucuku, sebagaimana semua sebutan mengiringi kehadiran. Yang terpenting adalah kehadiran wujud itu sampai tujuannya. Tugas seorang penunggu adalah memastikan apakah semua yang hadir telah menuntaskan dirinya dalam kepuasannya menuju dirinya sendiri”
“ Saya sangat penat, kek. Saya ingin bersama kakek di sini sekedar untuk menghilangkan kepenatan saya”
“ Oh !? Jika demikian, inilah saat yang tepat bagi kakek untuk bertanya kepada cucu”.
Sejurus sunyi, kakek menghela nafas. Dihembuskannya dengan, aku ragu menyebutnya, sedang dan sangat biasa. Tidak kuat hembusan nafasnya, namun bukan tak bertenaga.

“ Mengapa cucuku berharap ?”, kakek Suminto memecah kesunyian.
Tiba-tiba seperti air bah yang tak tertahan, aku berbicara. Tak menjawab namun justeru bertanya.
“ Bagaimana mungkin diri saya tak berbicara, sedang saya bermulut dan mampu bicara ? Bagaimana mungkin saya tak berpikir, sedang saya memperhatikan dan tak mungkin memelihara diri ? Bagaimana mungkin saya tak merasa, sedang saya membutuhkan daya hidup ? Bagaimana mungkin saya tak bergerak, sedang saya berhati dan memahami tujuan ?”
“ Mengapa cucuku mesti menentukan diri, padahal belum pasti semua ukuran diri ? Mengapa cucuku mesti berkejujuran, padahal cucuku tak sedang dituntut untuk bertanggung jawab ? Mengapa cucuku mesti memindahkan seluruh irama hidup, padahal cucuku tak sedang menentukan siapa yang mesti terpimpin ? Mengapa cucuku mengaras diri, padahal tiada alur sungai yang memastikan cucu menuju gelora lautan ?”
“ Bagaimana mungkin saya senantiasa memberadakan diri dalam kebimbangan, sedang saya senantiasa berada dalam keharusan ? Bagaimana mungkin saya tidak menyatakan diri, sedang saya senantiasa berada dalam kenyataan diri ? Bagaimana mungkin saya tidak memperbolehkan diri untuk bersenandung, sedang alam semesta menyatakan keharmonisannya ? Bagaimana mungkin saya terbendung, sedang saya adalah diri yang mesti menemukan kehambaan ?”
“ Mengapa cucu memihak, sedangkan semua kebebasan tak menawarkan apa pun selain kedunguan atas semua yang mungkin dipihaki ? Mengapa cucu tak menjelang siapa pun, padahal semua usia tidak mungkin meranumkan diri kecuali dalam kesempurnaan dan perlunya perubahan tradisi ? Mengapa cucu berpikir bahwa semua mungkin dipertaruhkan, sedangkan semua keberadaan tak pernah menuai lebih dari apa yang ada dalam dirinya ? Mengapa cucu berharap karam, sedang semua biduk adalah pengolah gelora ?”
“ Bagaimana mungkin saya mandiri, jika semua keterikatan wujud adalah kebanggaan diri ? Bagaimana mungkin saya berdiam diri, jika semua kebaikan diam adalah tujuanku ? Bagaimana mungkin saya tak meluruh, sedangkan semua masa adalah pemangkuku ? Bagaimana mungkin saya tak hendak pulang pada diri saya sendiri, sedangkan semua hanya pernah berkisah tentang diri ?”
“ Tidak cucuku …. Tidak demikian ….” Tiba-tiba kakek Suminto merenung rawan, kemudian matanya membening seperti semua suasana. Tak hendak aku menyia, segera aku sambungkan ucapanku
“ Mengapa kakek memilih berhenti dan diam, padahal kakek tak mungkin tak menghayati ? Mengapa kakek melambankan diri, padahal seluruh mentari menggaungkan saga cahayanya ? Mengapa kakek menghadirkan keluh, padahal sungguh itu merupakan keharusan lenyap ?”, dan aku dan mataku berkaca-kaca.

Sejurus diam . Air sungai mengalir tenang.

“ Sebenarnya, cucuku semua adalah selayak mentari yang memasungkan diri dengan rembulan. Namun jika semua kehendak yang mengawalinya adalah pertarungan, maka kelindannya adalah sesal yang sesaat. Sesal membutuhkan gelora hidup untuk melarutkan diri lagi dalam harapnya. Kecemasan adalah kehendak bagi tiadanya sesal, dan itulah pemelihara gelora diri. Namun harap yang tak hendak menyia mesti menyatakan keberadaannya, sebagaimana ketenangan diri atas semua tujuan yang telah pasti. Ada tanpa berharap, adalah kemungkinan diam yang tak berkesimpulan apa pun. Padahal hidup mengaraskan ketentuannya dalam kelemahlembutan usia yang berkesaksian. Tuhan itu tak pernah tak adil cucuku. Dan memberi adalah watak dari usia. Namun belum tentu demikian, jika kita tak berharap demikian. Dan seluruh manusia membahasakan itu semua dalam keberadaan kesempatan. Semua orang mencari kesempatan, agar merasa tidak lupa telah terberi, padahal hidup itulah kesempatan yang abadi. Di semua gerak diri, kesempatan menjadi tunai, dan engkaulah penjelangku yang terjelajah.”
Lagi-lagi aku harus dibuat kagum atas semua kehendakku. Sendu. Namun semua terjawab. Aku tak lelah lagi. Namun aku ingin pulang sebagaimana semua kewajaran mengharuskan demikian.
“ Terima kasih, kek !” setelah sekian hening menjelang kami berdua, “ Saya mau pulang, rasanya saya sudah puas “
“ Ya….mbok nanti dulu ?! Hari belum begitu larut “
“ Lha wong saya juga belum mandi, je “ sergahku sungkan
“ Wah ! kalau demikian …. Monggo nak !”
Sore . Aku semakin setia dengan sore. Bersama kakek Suminto adalah kebersamaan yang tak mungkin membuat aku lenyap di kalang bencama. Terima kasih Tuhan !