Kehidupan yang lestari tidak pernah mengajarkan kepada penghayatnya kemiskinan atas kebanggaan dan kesederhanaan. Hari-hari yang berlalu akhir-akhir ini membuatku semakin mampu menghayati makna kehadiran hidup. Kepedulian kecil anak-anakku semakin tumbuh bersama kesadaran semestanya yang berkembang. Walau aku agak ragu untuk menyebutkannya sebagai perkembangan semesta kediriannya, namun betapa pun kesemarakan usianya semakin menggembirakan hatiku. Kasih sayang isteriku pun semakin hari semakin mewujud dalam tata gerak hidup anak-anakku. Sebenarnya aku tak peduli benar dengan bagaimana cara isteriku membesarkan mereka. Bagiku yang penting mereka tumbuh sehat dalam pemeliharaan kami berdua, dan tentu saja beberapa tuntutan mendasar kehidupannya terpenuhi. Masa depan adalah kecerahan mereka sendiri, yang sama sekali bukan masa depan kami berdua. Kami hanya ingin menjadi pelabuhan yang terlayak bagi kehidupan mereka. Hidup yang berkelindan mestilah menjadi kenyataan yang tak nista dalam kesejarahannya. Dan itulah yang aku anggap sebagai tugas terbesar dari kehidupan.
Barangkali Tuhan tak hendak bersetia sungguh dengan keunikan. Anak-anakku mulai mengajari dirinya kebersamaannnya dengan saudara-saudaranya. Tiga orang anak yang sedikit selisih usianya, membuat tuntutan mereka pun hampir seragam. Aku kadang mensukurinya sebagai kemudahan hidup. Tak ada tuntutan macam-macam. Namun aku kadang khawatir dengan masa depan kediriannya. Apakah karena keseragaman mereka dalam menyatakan kebutuhan diri atas perkembangan membuat mereka tak bakal menemukan keunikan dirinya ? Aku bukan orang tua yang dibekali kemampuan untuk meramal masa depan manusia, sebagaimana beberapa orang yang berkemampuan khusus untuk itu. Namun kegemasanku akan diriku sendiri yang menuntut kesederhanaan pikiranku justru membuatku harus bersibuk angan dengan masa depan mereka. Dan anehnya aku tak merasa memperumit pikiranku. Aku biarkan kelana masaku mentari mereka mengembara ke ruang hati yang aku anggap terkhusuk. Ruang hati kakek Suminto.
“ Apa lagi yang membuat cucuku kemari ?” Tanya kakek Suminto penuh selidik pada suatu sore yang temaram.
“ Bukan apa-apa, kek. Namun bagaimana mungkin cucu tidak bertanya pada kakek untuk setiap ketakselarasan diri ?” aku menjawab dengan sedikit berdiplomasi.
“ Cucu ini aneh. Bila diriku yang orang tua ingin mamahami kebenaran faktual, justru cucu menjawab dengan jawaban samar. Apakah tak ada di dunia ini yang tak rahasia bagi cucuku ?”
“ Sebenarnya tak ada yang rahasia, kek. Namun ketiadaan rahasia itu bermakna diam yang tak peduli. Jadi cucu ingin memahaminya dengan pengandaian isteri cucu atas masa. Bagaimana halnya bila semua disamarkan ? Apakah bakal muncul titik pandang kepedulian baru ? Namun lagi-lagi cucu harus bertindak tidak arif, sehingga cucu merasa perlu menghadap kakek Suminto” aku berkilah
“ Kearifan itu tak pernah menjadi rahasia cucuku, selama masih mengada cahaya. Kearifan itu adalah kilau wujud yang tak pernah ingkar pada kepastiannya untuk mengembara bersama kesaksian kebenaran diri. Bisa amal diri. Bisa masa depan diri. Bisa kelindan masa keemasan. Dan semua tak pernah putus dalam rangkaian fisi-fungsi hidup yang berkehayatan. Lha, sekarang ini siapa lah kakekmu Suminto yang tua ini. Tak berperikemanusiaan atas masa depan mantu cucuku rupanya” kakek Suminto mengakhiri ucapannya dengan tawa berderai. Ringan dan renyah sebagaimana udara, mengingatkanku akan isteriku yang tak pernah berhenti sibuk dengan buah hati kami.
“ Maksud cucu, bila masa depan itu tidak jelas alurnya, mengapa kita mesti menjadi diri yang terpelabuhan atasnya ? Bukankah kemungkinan badai perusak pelabuhan membuat kita harus cerdas memahami ilmu badai ? Bukankah kemungkinan kesendirian masa tanpa siapa pun yang layak digantungi membuat kita mesti cerdas memahami watak usia ?” lagi-lagi yang meluncur dari bibirku adalah ungkapan-ungkapan samar
“ Benar cucuku. Itu benar semuanya. “ kakek Suminto menghela nafas. Sejurus diam. Kemudian beliau menyambung ucapannya
“ Masa depan itu pernah dijelaskan oleh kekinian cucuku. Namun pernah pula disamarkan oleh masa lalunya. Dan biasanya dirayu sapa oleh dirinya sendiri.” Kakek Suminto mengakhiri kalimatnya dengan nada yang misterius
“ Namun, kek, sebagaimana sungai yang pernah berpenghuni hewan dan tumbuhan air, bagaimana halnya dengan diri, masa depan dan semua situasi yang bakal ditemuinya. Apakah semua bakal lestari sebagaimana sungai menjamin kelangsungan hidup sedemikian banyak ciptaanNya ?”
“ Cucuku, sesungguhnya tak ada yang lestari dari semua masa dan suasana. Justru karena masa depan kehidupannya sendiri yang lestari. Jika semua jiwa pasti merasai mati, apakah tidak dengan suasananya ? Jika semua diri tak mungkin lepas dari semua cobaan, apakah tidak demikian dengan suasana yang mesti dirubah oleh diri penghendak kelestarian ? Semua mesti tertata dalam keselarasannya. Dan itulah rahasia rahmat. Semua diri tak pernah tak dicoba sesuai dengan kemungkinan suasana menanggung beban kelestarian berupa ketaklestarian. Manusia berusaha memelihara diri. Manusia berusaha melestarikan dirinya. Dan itu merupakan upaya yang tak pernah berhenti sepanjang jaman. Semua yang memperhatikan perubahan pernah sepakat dengan evolusi. Namun apakah benar demikian, jika sebenarnya kita tak pernah berubah secara eksistensial. Sedari dulu manusia tak mungkin berasal wujud selain manusia. Namun kehebatan Yang Maha Kuasa dalam melestarikan ciptaanNya memungkinkan manusia mengenal seluruh suasana dirinya”
“ Maksud kakek, Sedemikian rahasianyakah masa itu, sehingga kita mesti mungkin tak bersetia dengan kesendirian kita ?”
“ Benar cucuku. Perbedaan itu adalah rahasia rahmat. Namun keselarasan menjadikannya sebagai kebersamaan. Dan itu pun rahmat pula. Dan diri yang memahami keduanya dalam kemungkinan keunikan diri di tengah keduanya adalah diri yang rahmat pula. Jadi tak mungkin kita tak menyesali kesendirian tanpa memahami keindahan kebersamaan yang lestari”
“ Mengenai beban-beban semesta kelestarian itu tadi bagaimana kek ?”
“ Duh cucuku jadi seperti cicitku sekarang. “
“ Bukan demikian, kek “, aku tiba-tiba menyadari kekanakanku dan jengah dibuatnya,
“ Maksud cucuku ada yang tak mungkin cucu harapkan selain dari keberadaan eksistensi selain cucu sendiri”.
“ Ya, dan itu lah kepedulian atas kekuasaan diri yang memelihara diri. Peliharalah diri cucuku. Itu membuat cucu layak mengemban masa depan. Jika cucu abai barang sedetik saja, berarti cucu telah mengabaikan potensi kebersamaan yang lestari ke kancah bencana semesta. Dan itu tak saja cucu derita, namun bakal dirasakan oleh semua keselarasan”
“ Namun, kek , bukankah ada dan tiada itu pun keselarasan ?”
“ Tidak mungkin ketiadaan berasal dari ketiadaan. Ketiadaan berasal dari keberadaaan. Bila kemudian muncul ketiadaan, maka itu hanya merupakan tanda irama kehadiran yang memungkinkan ketiadaannya sebagai sesaat sirnanya rasa oleh kepastian. Karena bila tak demikian, maka kehadiran tak mungkin mencapai kepastian iramanya. Pastikanlah diri cucuku, dalam kekinian yang selaras. Itulah perilaku diri yang tak hendak mengkhianati semesta keberadaan dirinya”
“ Baik kek, namun bagaimana dengan angan masa itu ?“
“ Biarkanlah keindahan itu hadir sebagai keindahan, cucuku. Biasakanlah diri cucuku dalam kebiasaan keindahan menyapa dirinya sendiri. Angan adalah sebagian keindahan yang menyamarkan diri dalam keindahan pengandaian. Hidup yang tak bermasa depan tak mungkin memahaminya. Jadi pahamilah cucuku. Dan jawablah sapanya dengan pemahaman itu, tak mesti benar, namun harus selaras dan terhubung dengan fungsi diri, agar kita senantiasa waspada dan tak menjadi lupa oleh belaiannya”
“ Baik, kek. Tak banyak yang cucu pahami. Karena kakek pun tak ingin memberi lebih pada cucuku.” Aku merajuk dengan sedikit berecana atas masa
“ Oh ! Tidak demikian cucuku. Tidak demikian. Pulanglah dan segeralah larut lagi dalam kasih sayang yang biasa memelihara cucuku.”
“ Duh ! kakek tahu saja “
“ Setiap akhir dari luruh itu, adalah kebiasaan diri”
“ Baik, kek. Selamat sore, kek. Cucu mau pulang”
“ Ya, salam buat cucu mantuku dan cicit-cicitku”
“ Baik, kek, nanti saya sampaikan”
Dunia kanak memang manja. Dan aku mesti pulang kembali kepadanya, sebagai dan bersama keseharian dan masa depan anak-anakku.
Jatiwaringin, 22 Maret 2004
Supatmono, penulis lepas
Barangkali Tuhan tak hendak bersetia sungguh dengan keunikan. Anak-anakku mulai mengajari dirinya kebersamaannnya dengan saudara-saudaranya. Tiga orang anak yang sedikit selisih usianya, membuat tuntutan mereka pun hampir seragam. Aku kadang mensukurinya sebagai kemudahan hidup. Tak ada tuntutan macam-macam. Namun aku kadang khawatir dengan masa depan kediriannya. Apakah karena keseragaman mereka dalam menyatakan kebutuhan diri atas perkembangan membuat mereka tak bakal menemukan keunikan dirinya ? Aku bukan orang tua yang dibekali kemampuan untuk meramal masa depan manusia, sebagaimana beberapa orang yang berkemampuan khusus untuk itu. Namun kegemasanku akan diriku sendiri yang menuntut kesederhanaan pikiranku justru membuatku harus bersibuk angan dengan masa depan mereka. Dan anehnya aku tak merasa memperumit pikiranku. Aku biarkan kelana masaku mentari mereka mengembara ke ruang hati yang aku anggap terkhusuk. Ruang hati kakek Suminto.
“ Apa lagi yang membuat cucuku kemari ?” Tanya kakek Suminto penuh selidik pada suatu sore yang temaram.
“ Bukan apa-apa, kek. Namun bagaimana mungkin cucu tidak bertanya pada kakek untuk setiap ketakselarasan diri ?” aku menjawab dengan sedikit berdiplomasi.
“ Cucu ini aneh. Bila diriku yang orang tua ingin mamahami kebenaran faktual, justru cucu menjawab dengan jawaban samar. Apakah tak ada di dunia ini yang tak rahasia bagi cucuku ?”
“ Sebenarnya tak ada yang rahasia, kek. Namun ketiadaan rahasia itu bermakna diam yang tak peduli. Jadi cucu ingin memahaminya dengan pengandaian isteri cucu atas masa. Bagaimana halnya bila semua disamarkan ? Apakah bakal muncul titik pandang kepedulian baru ? Namun lagi-lagi cucu harus bertindak tidak arif, sehingga cucu merasa perlu menghadap kakek Suminto” aku berkilah
“ Kearifan itu tak pernah menjadi rahasia cucuku, selama masih mengada cahaya. Kearifan itu adalah kilau wujud yang tak pernah ingkar pada kepastiannya untuk mengembara bersama kesaksian kebenaran diri. Bisa amal diri. Bisa masa depan diri. Bisa kelindan masa keemasan. Dan semua tak pernah putus dalam rangkaian fisi-fungsi hidup yang berkehayatan. Lha, sekarang ini siapa lah kakekmu Suminto yang tua ini. Tak berperikemanusiaan atas masa depan mantu cucuku rupanya” kakek Suminto mengakhiri ucapannya dengan tawa berderai. Ringan dan renyah sebagaimana udara, mengingatkanku akan isteriku yang tak pernah berhenti sibuk dengan buah hati kami.
“ Maksud cucu, bila masa depan itu tidak jelas alurnya, mengapa kita mesti menjadi diri yang terpelabuhan atasnya ? Bukankah kemungkinan badai perusak pelabuhan membuat kita harus cerdas memahami ilmu badai ? Bukankah kemungkinan kesendirian masa tanpa siapa pun yang layak digantungi membuat kita mesti cerdas memahami watak usia ?” lagi-lagi yang meluncur dari bibirku adalah ungkapan-ungkapan samar
“ Benar cucuku. Itu benar semuanya. “ kakek Suminto menghela nafas. Sejurus diam. Kemudian beliau menyambung ucapannya
“ Masa depan itu pernah dijelaskan oleh kekinian cucuku. Namun pernah pula disamarkan oleh masa lalunya. Dan biasanya dirayu sapa oleh dirinya sendiri.” Kakek Suminto mengakhiri kalimatnya dengan nada yang misterius
“ Namun, kek, sebagaimana sungai yang pernah berpenghuni hewan dan tumbuhan air, bagaimana halnya dengan diri, masa depan dan semua situasi yang bakal ditemuinya. Apakah semua bakal lestari sebagaimana sungai menjamin kelangsungan hidup sedemikian banyak ciptaanNya ?”
“ Cucuku, sesungguhnya tak ada yang lestari dari semua masa dan suasana. Justru karena masa depan kehidupannya sendiri yang lestari. Jika semua jiwa pasti merasai mati, apakah tidak dengan suasananya ? Jika semua diri tak mungkin lepas dari semua cobaan, apakah tidak demikian dengan suasana yang mesti dirubah oleh diri penghendak kelestarian ? Semua mesti tertata dalam keselarasannya. Dan itulah rahasia rahmat. Semua diri tak pernah tak dicoba sesuai dengan kemungkinan suasana menanggung beban kelestarian berupa ketaklestarian. Manusia berusaha memelihara diri. Manusia berusaha melestarikan dirinya. Dan itu merupakan upaya yang tak pernah berhenti sepanjang jaman. Semua yang memperhatikan perubahan pernah sepakat dengan evolusi. Namun apakah benar demikian, jika sebenarnya kita tak pernah berubah secara eksistensial. Sedari dulu manusia tak mungkin berasal wujud selain manusia. Namun kehebatan Yang Maha Kuasa dalam melestarikan ciptaanNya memungkinkan manusia mengenal seluruh suasana dirinya”
“ Maksud kakek, Sedemikian rahasianyakah masa itu, sehingga kita mesti mungkin tak bersetia dengan kesendirian kita ?”
“ Benar cucuku. Perbedaan itu adalah rahasia rahmat. Namun keselarasan menjadikannya sebagai kebersamaan. Dan itu pun rahmat pula. Dan diri yang memahami keduanya dalam kemungkinan keunikan diri di tengah keduanya adalah diri yang rahmat pula. Jadi tak mungkin kita tak menyesali kesendirian tanpa memahami keindahan kebersamaan yang lestari”
“ Mengenai beban-beban semesta kelestarian itu tadi bagaimana kek ?”
“ Duh cucuku jadi seperti cicitku sekarang. “
“ Bukan demikian, kek “, aku tiba-tiba menyadari kekanakanku dan jengah dibuatnya,
“ Maksud cucuku ada yang tak mungkin cucu harapkan selain dari keberadaan eksistensi selain cucu sendiri”.
“ Ya, dan itu lah kepedulian atas kekuasaan diri yang memelihara diri. Peliharalah diri cucuku. Itu membuat cucu layak mengemban masa depan. Jika cucu abai barang sedetik saja, berarti cucu telah mengabaikan potensi kebersamaan yang lestari ke kancah bencana semesta. Dan itu tak saja cucu derita, namun bakal dirasakan oleh semua keselarasan”
“ Namun, kek , bukankah ada dan tiada itu pun keselarasan ?”
“ Tidak mungkin ketiadaan berasal dari ketiadaan. Ketiadaan berasal dari keberadaaan. Bila kemudian muncul ketiadaan, maka itu hanya merupakan tanda irama kehadiran yang memungkinkan ketiadaannya sebagai sesaat sirnanya rasa oleh kepastian. Karena bila tak demikian, maka kehadiran tak mungkin mencapai kepastian iramanya. Pastikanlah diri cucuku, dalam kekinian yang selaras. Itulah perilaku diri yang tak hendak mengkhianati semesta keberadaan dirinya”
“ Baik kek, namun bagaimana dengan angan masa itu ?“
“ Biarkanlah keindahan itu hadir sebagai keindahan, cucuku. Biasakanlah diri cucuku dalam kebiasaan keindahan menyapa dirinya sendiri. Angan adalah sebagian keindahan yang menyamarkan diri dalam keindahan pengandaian. Hidup yang tak bermasa depan tak mungkin memahaminya. Jadi pahamilah cucuku. Dan jawablah sapanya dengan pemahaman itu, tak mesti benar, namun harus selaras dan terhubung dengan fungsi diri, agar kita senantiasa waspada dan tak menjadi lupa oleh belaiannya”
“ Baik, kek. Tak banyak yang cucu pahami. Karena kakek pun tak ingin memberi lebih pada cucuku.” Aku merajuk dengan sedikit berecana atas masa
“ Oh ! Tidak demikian cucuku. Tidak demikian. Pulanglah dan segeralah larut lagi dalam kasih sayang yang biasa memelihara cucuku.”
“ Duh ! kakek tahu saja “
“ Setiap akhir dari luruh itu, adalah kebiasaan diri”
“ Baik, kek. Selamat sore, kek. Cucu mau pulang”
“ Ya, salam buat cucu mantuku dan cicit-cicitku”
“ Baik, kek, nanti saya sampaikan”
Dunia kanak memang manja. Dan aku mesti pulang kembali kepadanya, sebagai dan bersama keseharian dan masa depan anak-anakku.
Jatiwaringin, 22 Maret 2004
Supatmono, penulis lepas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar